18/11/2015

Dampak Kabut Asap Terhadap Kehidupan Manusia

Ilustrasi Kabut dan Asap
Sumber: wacana.siap.web.id
Latar Belakang - Sejak bulan Juni 2015, Indonesia dilanda bencana kabut dan asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan Sumatera dan Kalimantan secara ilegal yang diduga sengaja dilakukan oknum tertentu untuk keperluan pembukaan lahan perkebunan. Hari Senin tanggal 14 September 2015, status darurat asap pun dikeluarkan oleh pemerintahan provinsi Riau karena alat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berada pada angka 300 Psi atau berada pada level berbahaya.
Akibat yang ditimbulkan oleh bencana kabut dan asap ini pun dirasakan berbagai sektor, seperti kesehatan, ekonomi, lingkungan dan sosial. Berbagai upaya dilakukan pemerintah baik pusat, daerah, luar negri, masyarakat serta kelompok ikut serta dalam upaya mengatasi bencana ini dengan berbagai cara.
Salah satu sebab sulitnya menghapus praktek pembukaan lahan dengan membakar adalah masih adanya peraturan yang mengizinkan teknik tersebut. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Mekanisme Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan/Lahan. Pasal 4 Ayat 1: Masyarakat hukum adat yang melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimum 2 (dua) hektare per kepala keluarga untuk ditanami jenis varietas lokal wajib memberitahukan kepada kepala desa.

Standar Limbah
Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) adalah laporan kualitas udara kepada masyarakat untuk menerangkan seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan setelah menghirup udara tersebut selama beberapa jam/hari/bulan. Penetapan ISPU ini mempertimbangkan tingkat mutu udara terhadap kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, bangunan dan nilai estetika.
Berikut Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Teknis Perhitungan Dan Pelaporan Serta Informasi  Indeks Standar Pencemar Udara No. KEP-107/KABAPEDAL/11/1997 Tanggal 21 November 1997:

ISPU Ditetapkan Berdasarkan KEP-107/KABAPEDAL/11/1997, yaitu:
- Karbon Monooksida (CO): 8 jam (Periode pengukuran rata-rata)
- Sulfur Dioksida (SO2): 24 jam (Periode pengukuran rata-rata)
- Nitrogen Dioksida (NO2): 1 jam (Periode pengukuran rata-rata)
- Ozon Permukaan (O3): 1 jam (Periode pengukuran rata-rata)
- Partikel Debu (PM10): 24 jam (Periode pengukuran rata-rata)

Realita Lapangan
Kombinasi kebakaran hutan dan musim kemarau menyebabkan polusi asap serta kabut yang berdampak pada kehidupan manusia dan lingkungan. Berikut ini dampak yang di timbulkan dari kabut asap:

  • Kesehatan
1. Kabut asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungkin juga infeksi.
2. Kabut asap dapat memperburuk penyakit asma dan penyakit paru kronis lain.
3. Kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan seseorang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas.
4. Bagi mereka yang berusia lanjut (lansia) dan anak-anak maupun yang mempunyai penyakit kronik, dengan kondisi daya tahan tubuh yang rendah akan lebih rentan untuk mendapat gangguan kesehatan.
5. Kemampuan dalam mengatasi infkesi paru dan saluran pernapasan menjadi berkurang, sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.
6. Berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk.
7. Bahan polutan pada asap kebakaran hutan dapat menjadi sumber polutan  di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi.
8. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jadi lebih mudah terjadi, terutama karena ketidak seimbangan daya tahan tubuh (host), pola bakteri/virus penyebab penyakit (agent) serta buruknya lingkungan (environment).

  • Pendidikan
Sekolah-sekolah di Kota Pekanbaru, Riau terpaksa meliburkan siswa untuk menghindari bahaya kesehatan untuk siswa. Pada 15 September 2015, pemerintah di Malaysia memerintahkan penutupan sekolah-sekolah di Kuala Lumpur, Selangor, Melaka dan Negeri Sembilan.

  • Lingkungan
Dampak dari kabut asap ini jelas terdapat pada lingkungan yakni ekosistem hutan, fauna, serta flora yang rusak. Hal ini pun berdampak hingga pada ekosistem hayati, seperti tercemarnya sungai akibat debu asap sisa kebakaran hutan.

  • Ekonomi
Di provinsi Riau kebakaran hutan lebih dari 33 ribu hektare, yang di perkirakan nilai kerugiannya mencapai Rp. 7 Triliun. Untuk melakukan rehabilitasi kembali hutan membutuhkan dana Rp 44 Triliun. Pada tanggal 14 September 2015, 70 penerbangan di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, Riau dibatalkan karena kabut asap. Walaupun demikian otoritas bandar udara belum menutup seluruh aktivitas bandar udara. Polusi asap menyebabkan penundaan dan pembatalan penerbangan "setiap hari" di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Berikut ini solusi yang di terbitkan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes Tjandra Yoga Aditama untuk melindungi diri dari risiko gangguan kabut asap. Menurutnya, ada delapan hal yang bisa dilakukan:
1. Sedapat mungkin Hindari atau kurangi aktivitas di luar rumah/gedung. Terutama bagi mereka yang menderita penyakit jantung dan gangguan pernafasan.
2. Jika terpaksa pergi ke luar rumah/gedung maka sebaiknya menggunakan masker.
3. Minum air putih lebih banyak dan lebih sering 
4. Bagi yang telah mempunyai gangguan paru dan jantung sebelumnya, mintalah nasihat kepada dokter untuk perlindungan tambahan sesuai kondisi. Segera berobat ke dokter atau sarana pelayanan kesehatan terdekat bila mengalami kesulitan bernapas atau gangguan kesehatan lain.
5. Selalu lakukan perilaku hidup bersih sehat (PHBS). Seperti makan bergizi, jangan merokok, istirahat yang cukup dan lain-lain.
6. Upayakan agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah/sekolah/kantor dan ruang tertutup lainnya
7. Penampungan air minum dan makanan harus terlindung baik.
8. Buah-buahan dicuci sebelum dikonsumsi. Bahan makanan dan minuman yang dimasak perlu di masak dengan baik.

Kesimpulan
1 November 2015, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau mencabut status darurat pencemaran udara akibat asap kebakaran hutan. Dengan berakhirnya status darurat kabut asap, bukan berarti tuntas masalah dari bencana kabut asap ini. Berikut ini hal yang perlu di lakukan pasca bencana kabut asap:
1. Perlu ada rehabilitasi hutan yang digalangkan oleh pihak terkait yaitu pemerintah untuk mengembalikan ekosistem hutan yang rusak.
2. Peraturan pemerintah mengenai pembukaan lahan pun perlu di revisi atau di tinjau kembali untuk menghindari penyimpangan hukum.
3. Memastikan tidak ada lagi kebakaran hutan secara ilegal.
4. Penjaminan kesehatan untuk warga yang terkena bencana kabut dan asap.
5. Melakukan tindakan tegas untuk oknum yang di anggap turut ambil dalam bencana kabut asap.


Sumber Laman: 
cets-uii.org
kualitasudara.menlhk.go.id
id.wikipedia.org
dinkes.baritokualakab.go.id
nasional.tempo.co

0 komentar :

Post a Comment